Jumat, 23 Januari 2026 | 3 min read | Andhika R
Keamanan Siber Masih "Raja" Risiko, AI Melesat Drastis ke Posisi Kedua
Laporan tahunan Allianz Risk Barometer 2026 kembali merilis peta risiko global yang menjadi sorotan utama di ruang rapat direksi. Selama lima tahun berturut-turut, Insiden Siber kokoh di puncak sebagai ancaman bisnis nomor satu. Namun, kejutan terbesar tahun ini bukan pada posisi puncak, melainkan pada lonjakan dramatis Kecerdasan Buatan (AI) yang melompat dari peringkat sepuluh tahun lalu, langsung menuju posisi kedua.
Temuan ini memberikan sinyal keras bagi para pemimpin bisnis di sektor elektronik, infrastruktur digital, hingga otomatisasi industri: prioritas investasi dan mitigasi risiko harus segera disesuaikan dengan realitas baru di mana teknologi menjadi pedang bermata dua.
Insiden siber mendominasi survei dengan 42% responden menempatkannya sebagai risiko utama—skor tertinggi yang pernah tercatat. Keunggulan 10% di atas risiko lainnya menegaskan bahwa ancaman ransomware dan kebocoran data belum mereda.
- Faktor Pendorong: Ketergantungan digital yang kian dalam, regulasi yang terus berkembang, dan ketegangan geopolitik menjadi bahan bakar utama.
- Kesenjangan Resiliensi: Michael Bruch, Global Head of Risk Consulting Allianz, menyoroti perbedaan nasib. Perusahaan besar mulai memetik hasil dari investasi keamanan masif mereka, namun perusahaan menengah dan kecil semakin menjadi target empuk karena keterbatasan sumber daya pertahanan.
Perubahan paling mencolok adalah melesatnya AI ke peringkat kedua dengan 32% suara. Adopsi sistem Generative dan Agentic AI yang agresif memicu kekhawatiran baru terkait liabilitas hukum, keandalan sistem, dan tata kelola.
- Pedang Bermata Dua: Ludovic Subran, Kepala Ekonom Allianz, menyebut AI sebagai peluang strategis sekaligus sumber risiko operasional yang kompleks. Masalah utamanya adalah kecepatan adopsi teknologi yang jauh melampaui kesiapan regulasi dan kompetensi tenaga kerja.
- Supercharging Threats: AI tidak hanya membantu bisnis, tetapi juga "memberi tenaga tambahan" bagi aktor ancaman, memperluas permukaan serangan, dan mengeksploitasi kerentanan yang ada dengan lebih efisien.
Sementara itu, risiko Gangguan Bisnis (Business Interruption) bergeser ke posisi ketiga, namun tetap terikat erat dengan ketegangan geopolitik. Risiko politik dan kekerasan naik ke peringkat tujuh, didorong oleh konflik global dan kebijakan proteksionisme perdagangan. Sebanyak 51% responden bahkan menganggap kelumpuhan rantai pasok akibat konflik geopolitik sebagai peristiwa "Black Swan" (kejadian langka berdampak besar) yang paling mungkin terjadi dalam lima tahun ke depan.
Laporan Allianz 2026 menegaskan bahwa kita berada di era di mana risiko siber dan AI saling terkait erat. Ketergantungan pada pihak ketiga untuk data dan layanan kritis, seperti yang disorot dalam laporan, menciptakan celah keamanan yang sering kali luput dari pengawasan internal.
Refleksi dari berbagai proyek simulasi serangan dan audit keamanan yang kami tangani menunjukkan pola yang konsisten, di mana perusahaan sering kali memiliki pertahanan internal yang cukup baik, namun runtuh ketika serangan masuk melalui celah vendor atau mitra pihak ketiga yang tidak aman. Temuan ini selaras dengan peringatan Allianz mengenai risiko penyedia layanan eksternal. Oleh karena itu, di Fourtrezz, kami melihat urgensi bagi perusahaan untuk memperketat strategi manajemen risiko rantai pasok. Kami menekankan pendekatan validasi, bukan sekadar kepercayaan. Melalui layanan konsultasi strategi keamanan, kami membantu klien membangun mekanisme untuk memvalidasi apakah tools, mitra, atau kolega ekosistem mereka telah menerapkan standar keamanan yang memadai, sehingga risiko eksternal tidak menjadi pintu masuk serangan.
Selain itu, lonjakan risiko AI menuntut pendekatan baru dalam pengembangan perangkat lunak. Berdasarkan pengujian keamanan pelanggan yang pernah kami lakukan, aplikasi yang mengintegrasikan AI sering kali dirilis tanpa pengujian keamanan logika yang mendalam. Fourtrezz mendorong penerapan Secure Software Development sejak fase desain, serta Red Teaming spesifik untuk model AI guna menguji ketahanan terhadap manipulasi. Di sisi lain, kesenjangan kompetensi tenaga kerja harus dijembatani melalui Employee Training yang relevan dengan ancaman AI terbaru, memastikan manusia tetap menjadi pengendali, bukan titik lemah.
Andhika RDigital Marketing at Fourtrezz
Artikel Terpopuler
Tags: Harga Pentest, Keamanan Siber, Jasa Pentest, Audit IT, Fourtrezz
Baca SelengkapnyaBerita Teratas
Berlangganan Newsletter FOURTREZZ
Jadilah yang pertama tahu mengenai artikel baru, produk, event, dan promosi.



