Selasa, 27 Januari 2026 | 8 min read | Andhika R
Ketika Perusahaan Lebih Takut Kehilangan Anggaran daripada Kehilangan Data
Dalam dinamika manajemen korporasi modern, sebuah pemandangan kontradiktif sering kali menghiasi ruang-ruang rapat dewan direksi. Di satu sisi, data disebut-sebut sebagai "minyak baru" (the new oil)—aset paling berharga yang menggerakkan inovasi dan keputusan strategis. Namun, di sisi lain, mekanisme perlindungan terhadap aset tersebut sering kali kalah telak oleh sebuah prosedur birokrasi klasik: siklus anggaran tahunan.
Ada sebuah fenomena psikologis dan administratif yang mengkhawatirkan di mana para pengambil kebijakan lebih merasa terancam jika anggaran departemen mereka tidak terserap sepenuhnya daripada ancaman kebocoran data yang bisa melumpuhkan perusahaan. Ketakutan akan pemotongan anggaran di tahun fiskal berikutnya seringkali memicu keputusan yang bersifat reaktif dan dangkal, sementara risiko keamanan siber yang bersifat eksistensial dibiarkan menggantung di bawah bayang-bayang ketidakpastian.

Paradoks "Use It or Lose It" dalam Keamanan Siber
Kebijakan anggaran "gunakan atau hilangkan" (use it or lose it) telah lama menjadi momok bagi efisiensi perusahaan. Sistem ini memaksa manajer untuk membelanjakan sisa dana di akhir tahun agar jatah anggaran mereka tidak dikurangi di periode mendatang. Masalahnya, ketika mentalitas ini diterapkan pada sektor teknologi informasi (TI) dan keamanan data, fokusnya bergeser dari "apa yang kita butuhkan untuk tetap aman" menjadi "bagaimana kita menghabiskan uang ini secepat mungkin."
Kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai keamanan performatif. Perusahaan membeli berbagai perangkat lunak mahal atau lisensi teknologi mutakhir hanya untuk memenuhi kuota belanja, tanpa mempertimbangkan integrasi, pemeliharaan, atau audit mendalam. Akibatnya, muncul tumpukan teknologi yang terlihat mengesankan di atas kertas laporan keuangan, namun memiliki celah menganga di lapangan. Fenomena ini kerap menjadi temuan berulang dalam rangkaian uji penetrasi yang kami lakukan terhadap berbagai entitas bisnis di tanah air.
Ilusi Keamanan di Balik Anggaran Statis
Banyak organisasi masih menganggap keamanan siber sebagai biaya operasional (OPEX) yang harus ditekan, bukan sebagai investasi strategis yang melindungi nilai pasar perusahaan. Dalam jurnal-jurnal ekonomi siber terbaru, ditekankan bahwa serangan siber saat ini bukan lagi pertanyaan tentang "jika", melainkan "kapan". Namun, manajemen seringkali terjebak dalam bias optimisme, menganggap bahwa karena tidak ada insiden besar di tahun lalu, maka sistem yang ada saat ini sudah cukup.
Ketakutan kehilangan anggaran memicu perilaku "penghematan palsu". Misalnya, sebuah perusahaan mungkin memutuskan untuk tidak melakukan uji penetrasi berkala atau memperbarui infrastruktur cloud mereka hanya karena angka tersebut tidak masuk dalam perencanaan anggaran awal yang kaku. Mereka gagal melihat bahwa biaya pemulihan pasca-serangan—yang mencakup denda regulasi, kehilangan kepercayaan pelanggan, dan biaya forensik digital—jauh melampaui biaya pencegahan yang mereka pangkas.
Anatomi Risiko: Data vs. Anggaran
Mari kita bedah secara mendalam mengapa ketakutan terhadap kehilangan anggaran adalah sebuah miopia manajerial. Kehilangan anggaran adalah masalah administratif yang bisa diperbaiki melalui negosiasi internal atau restrukturisasi strategi keuangan. Sebaliknya, kehilangan data adalah bencana multidimensi. Berdasarkan laporan Cost of a Data Breach dari IBM, rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk mendeteksi dan menahan kebocoran data adalah sekitar 277 hari. Selama periode tersebut, kerugian finansial terus membengkak secara eksponensial.
Di Indonesia, pengesahan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) telah menaikkan standar pertaruhan bagi setiap perusahaan. Kebocoran data bukan lagi sekadar masalah teknis, melainkan masalah hukum serius yang membawa sanksi denda administratif hingga persentase tertentu dari pendapatan tahunan, bahkan sanksi pidana bagi pengelola data. Ketika manajemen lebih sibuk menjaga angka di neraca keuangan agar tetap stabil secara jangka pendek, mereka sebenarnya sedang menabung risiko yang dapat memicu kebangkrutan seketika saat data sensitif pelanggan terekspos ke dark web.
Budaya "Compliance" vs. Budaya "Security"
Salah satu alasan mengapa perusahaan lebih takut kehilangan anggaran adalah karena anggaran bersifat terukur dan segera, sementara keamanan sering kali bersifat abstrak hingga terjadi bencana. Banyak perusahaan terjebak dalam budaya compliance (kepatuhan) belaka. Mereka melakukan audit atau membeli sistem keamanan hanya untuk mencentang daftar persyaratan regulasi atau demi mendapatkan sertifikasi tertentu.
Namun, kepatuhan bukanlah keamanan. Seseorang bisa saja patuh secara administratif terhadap standar anggaran tahunan, tetapi tetap gagal total dalam melindungi perimeter digitalnya. Penjahat siber tidak peduli seberapa rapi laporan keuangan Anda atau seberapa efisien penyerapan anggaran Anda. Mereka mencari celah dalam logika sistem, kerentanan yang belum ditambal, dan kelalaian manusia. Strategi keamanan yang hanya berbasis pada "apa yang disetujui anggaran" tanpa fleksibilitas untuk menghadapi ancaman yang muncul secara real-time adalah strategi yang cacat sejak dalam pikiran.
Dampak Psikologis pada Tim Teknis
Ketakutan manajemen terhadap anggaran juga berdampak buruk pada moral tim keamanan TI. Ketika para ahli keamanan siber mengidentifikasi kerentanan kritis namun permintaan mereka untuk perbaikan ditolak dengan alasan "anggaran sudah terkunci", timbul rasa frustrasi dan apatisme. Profesional siber terbaik akan meninggalkan perusahaan yang tidak memprioritaskan keamanan, menyisakan perusahaan dengan tim yang kurang kompeten untuk menghadapi serangan yang semakin canggih.
Lebih jauh lagi, keterbatasan anggaran yang kaku sering kali memaksa tim TI untuk menggunakan solusi open-source tanpa dukungan keamanan yang memadai atau membiarkan sistem lama (legacy systems) tetap berjalan meskipun sudah tidak didukung oleh vendor. Ini adalah undangan terbuka bagi kelompok peretas yang menggunakan otomatisasi untuk memindai ribuan perusahaan setiap jam demi mencari satu saja celah yang tidak terlindungi.
Menghitung ROI dari Keamanan Data
Untuk mematahkan ketakutan akan kehilangan anggaran, dewan direksi perlu memahami metrik Return on Investment (ROI) dari keamanan siber. ROI di sini tidak selalu berarti penambahan pendapatan langsung, melainkan Risk Mitigation Value—nilai dari kerugian yang berhasil dicegah.
Bayangkan sebuah skenario di mana investasi sebesar 500 juta rupiah untuk audit keamanan menyeluruh dan perbaikan infrastruktur dapat mencegah serangan ransomware yang berpotensi menyebabkan kerugian operasional sebesar 10 miliar rupiah. Dalam konteks ini, pengabaian terhadap investasi tersebut demi "menyelamatkan anggaran" adalah kegagalan logika bisnis yang fatal. Perusahaan harus mulai melihat keamanan sebagai enabler bisnis yang memungkinkan mereka berinovasi dengan aman di ruang digital.
Pergeseran Menuju Resiliensi Digital
Dunia bisnis di tahun 2026 dan seterusnya menuntut pergeseran paradigma dari sekadar "bertahan" menjadi "resiliensi digital". Resiliensi berarti perusahaan memiliki kemampuan untuk mengantisipasi, bertahan, pulih, dan beradaptasi dengan cepat dari gangguan siber. Hal ini tidak mungkin dicapai jika setiap keputusan teknologi harus melalui birokrasi anggaran yang lamban dan kaku.
Manajemen harus memberikan fleksibilitas anggaran bagi departemen keamanan siber. Anggaran harus bersifat dinamis, mengikuti perkembangan lanskap ancaman yang berubah setiap hari. Investasi pada deteksi dini, respon insiden, dan pelatihan kesadaran siber bagi karyawan harus menjadi prioritas utama yang tidak bisa diganggu gugat oleh kepentingan penghematan jangka pendek.
Langkah Strategis bagi Pengambil Keputusan
Langkah pertama untuk keluar dari jebakan ini adalah dengan menyatukan bahasa antara departemen keuangan (CFO) dan departemen keamanan (CISO). CFO perlu memahami risiko siber dalam bahasa kerugian finansial dan reputasi, sementara CISO harus mampu mempresentasikan kebutuhan keamanan sebagai bagian dari strategi keberlanjutan bisnis.
Kedua, hentikan praktik "belanja akhir tahun" yang tidak terencana. Setiap sen yang dikeluarkan dari anggaran harus didasarkan pada analisis risiko yang mendalam. Ketiga, lakukan evaluasi secara berkala terhadap postur keamanan perusahaan melalui pihak ketiga yang independen. Pandangan dari luar sering kali mampu melihat celah yang terabaikan oleh tim internal yang sudah terbiasa dengan rutinitas.
Membangun Masa Depan yang Aman dan Terukur
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah perusahaan tidak akan diukur dari seberapa akurat mereka menghabiskan anggaran tahunannya, melainkan dari seberapa tangguh mereka melindungi kepercayaan yang diberikan oleh pelanggan dan mitra bisnis mereka. Data bukan sekadar barisan kode di dalam server; data adalah representasi dari privasi manusia, strategi kompetitif, dan integritas korporasi.
Menghadapi tantangan siber yang semakin kompleks, perusahaan membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan anggaran yang rapi. Dibutuhkan visi strategis yang menempatkan keamanan di jantung setiap inovasi. Memahami risiko secara mendalam adalah kunci untuk memastikan bahwa setiap investasi yang Anda lakukan hari ini adalah benteng yang akan menjaga masa depan organisasi Anda.
Dalam perjalanan membangun resiliensi ini, memiliki mitra yang memiliki kapabilitas teknis dan pemahaman mendalam tentang lanskap ancaman di Indonesia menjadi sangat krusial. Keamanan bukanlah sebuah produk yang bisa dibeli sekali saja, melainkan sebuah proses berkelanjutan yang memerlukan dedikasi dan keahlian khusus. Sebagai perusahaan yang berfokus pada pertahanan digital, Fourtrezz hadir untuk menjembatani celah antara kebutuhan teknis dan kebijakan strategis Anda.
Kami memahami bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan unik dalam menyeimbangkan antara efisiensi operasional dan perlindungan data yang ketat. Melalui layanan seperti Penetration Testing yang komprehensif, audit keamanan, hingga konsultasi strategis, Fourtrezz membantu Anda memastikan bahwa anggaran yang Anda alokasikan bekerja secara optimal untuk memitigasi risiko nyata, bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif. Kami berkomitmen untuk memastikan bahwa perusahaan Anda tidak hanya bertahan di era digital, tetapi juga tumbuh dengan landasan keamanan yang kokoh.
Mari kita transformasikan ketakutan akan kehilangan anggaran menjadi keberanian untuk membangun sistem yang tidak tertembus. Lindungi aset paling berharga Anda sekarang, sebelum risiko berubah menjadi kenyataan yang tak terelakkan. Anda dapat menjangkau tim ahli kami untuk mendiskusikan strategi keamanan yang paling sesuai dengan kebutuhan spesifik organisasi Anda melalui kanal berikut:
Kontak Strategis Fourtrezz:
- Layanan Digital: www.fourtrezz.co.id
- Komunikasi Cepat: +62 857-7771-7243
- Korespondensi Bisnis: [email protected]
Keamanan siber adalah tanggung jawab bersama, dan bersama Fourtrezz, Anda memastikan bahwa data Anda tetap menjadi aset, bukan liabilitas.
Andhika RDigital Marketing at Fourtrezz
Artikel Terpopuler
Tags: Harga Pentest, Keamanan Siber, Jasa Pentest, Audit IT, Fourtrezz
Baca SelengkapnyaBerita Teratas
Berlangganan Newsletter FOURTREZZ
Jadilah yang pertama tahu mengenai artikel baru, produk, event, dan promosi.



