Rabu, 14 Januari 2026 | 3 min read | Andhika R

Pukulan Telak bagi OpenAI: Hakim Perintahkan Penyerahan 20 Juta Log ChatGPT dalam Sengketa Hak Cipta

Awal tahun 2026 menjadi momen krusial dalam sejarah litigasi kecerdasan buatan (AI). Hakim Federal New York, Sidney H. Stein, mengeluarkan perintah yang memaksa OpenAI untuk menyerahkan 20 juta log percakapan pengguna ChatGPT kepada pihak penggugat. Keputusan yang disahkan pada 5 Januari 2026 ini merupakan pukulan keras bagi OpenAI yang sebelumnya bersikeras menolak permintaan tersebut dengan alasan perlindungan privasi pengguna.

Kasus ini merupakan bagian dari gugatan gabungan (In re OpenAI, Inc. Copyright Infringement Litigation) yang melibatkan raksasa media seperti The New York Times dan Chicago Tribune, serta penulis novel yang menuduh OpenAI melatih model AI-nya menggunakan karya mereka tanpa izin.

Dalam persidangan, OpenAI mencoba menahan permintaan ini dengan argumen bahwa memproses kumpulan data sebesar itu (yang mewakili 0,5% dari total log yang disimpan) adalah tindakan yang "sangat membebani" dan berisiko mengekspos data pengguna. Mereka mengusulkan solusi alternatif berupa pencarian kata kunci spesifik.

Baca Juga: Ancaman "Model Poisoning", Paradoks Pertahanan AI, dan Kesenjangan Regulasi Global

Namun, Hakim Stein menolak argumen tersebut dan menegaskan keputusan Hakim Magistrate Ona T. Wang sebelumnya. Pengadilan memutuskan bahwa:

  • Relevansi Mengalahkan Beban: Tidak ada yurisprudensi yang mewajibkan metode penemuan bukti (discovery) harus menggunakan cara yang "paling tidak membebani".
  • Protokol Privasi Cukup: Hakim menilai bahwa protokol anonimisasi (de-identification) yang ketat sudah cukup untuk menyeimbangkan kebutuhan bukti hukum dengan privasi pengguna.
  • Bukan Penyadapan Ilegal: Hakim membedakan kasus ini dengan kasus penyadapan, menegaskan bahwa log ChatGPT adalah input sukarela pengguna ke platform milik perusahaan, sehingga status hukumnya berbeda dengan rekaman diam-diam.

Dr. Ilia Kolochenko, CEO ImmuniWeb, menyebut keputusan ini sebagai "bencana hukum" (legal debacle) bagi OpenAI yang dapat memicu gelombang tuntutan serupa. Namun, peringatan yang lebih mengerikan justru ditujukan kepada pengguna akhir.

Keputusan ini menjadi pengingat brutal bahwa interaksi Anda dengan chatbot AI dapat menjadi barang bukti di pengadilan, terlepas dari pengaturan privasi akun Anda.

  • Kompleksitas Arsitektur: Struktur LLM (Large Language Model) sangat kompleks. Meskipun pengguna menekan tombol "hapus" di antarmuka depan (front-end), data tersebut mungkin masih tersimpan di lapisan infrastruktur back-end atau cadangan sistem dalam bentuk lain.
  • Potensi Pidana: Dalam skenario terburuk, bukti yang diserahkan dalam kasus perdata ini bisa saja memicu investigasi kriminal jika log tersebut mengungkap aktivitas ilegal dari pengguna anonim yang kemudian berhasil diidentifikasi ulang.

Putusan pengadilan ini meruntuhkan mitos bahwa percakapan dengan AI bersifat pribadi dan tertutup rapat. Bagi dunia korporasi, implikasinya sangat serius: kerahasiaan dagang atau data sensitif perusahaan yang "bocor" ke dalam prompt AI publik kini berpotensi diakses oleh pihak ketiga melalui perintah pengadilan, meskipun data tersebut telah dianonimkan. Anonimitas dalam big data sering kali rapuh jika dikombinasikan dengan konteks yang spesifik.

Bagikan:

Avatar

Andhika RDigital Marketing at Fourtrezz

Semua Artikel

Artikel Terpopuler

Berlangganan Newsletter FOURTREZZ

Jadilah yang pertama tahu mengenai artikel baru, produk, event, dan promosi.

Partner Pendukung

infinitixyberaditif

© 2026 PT Tiga Pilar Keamanan. All Rights Reserved.
Info Ordal