Senin, 2 Februari 2026 | 2 min read | Andhika R

Laporan WEF 2026: AI "Supercharge" Perlombaan Senjata Siber, 73% Eksekutif Terdampak Penipuan

Kecerdasan Buatan (AI) tidak lagi sekadar alat bantu; ia telah menjadi bahan bakar utama yang "mempercepat secara drastis" (supercharging) perlombaan senjata di dunia siber. Laporan terbaru Global Cybersecurity Outlook 2026, hasil kolaborasi World Economic Forum (WEF) dan Accenture, memaparkan realitas baru di mana teknologi canggih, ketegangan politik global, dan penipuan digital saling berinterseksi, menyeret individu dari segala lapisan—termasuk para eksekutif puncak—ke dalam pusaran risiko.

Laporan ini mengidentifikasi tiga tren kunci yang akan mendefinisikan lansekap keamanan siber sepanjang tahun 2026, memberikan panduan strategis bagi organisasi di seluruh dunia.

Baca Juga: Revolusi Identitas Digital: Pemerintah Wajibkan Registrasi SIM Card Biometrik dan Batasi Kepemilikan Nomor

Tren 1: Pedang Bermata Dua AI

Tren pertama dan paling dominan adalah peran sentral AI dalam mempercepat baik ancaman maupun pertahanan siber.

  • Lonjakan Kesadaran: Organisasi kini semakin waspada. Jumlah responden yang melakukan penilaian keamanan (security assessment) terhadap alat AI melonjak drastis, dari 37% pada 2025 menjadi 64% pada 2026.
  • Risiko Tercepat: Sebanyak 87% responden sepakat bahwa kerentanan terkait AI (AI-related vulnerabilities) adalah kategori risiko siber dengan pertumbuhan tercepat saat ini. AI tidak hanya membantu pertahanan, tetapi juga memberi amunisi bagi penyerang untuk menemukan celah lebih cepat.

Tren 2: Bayang-Bayang Geopolitik

Faktor geopolitik tetap menjadi penentu utama dalam strategi mitigasi risiko. Hampir dua dari tiga (66%) organisasi yang disurvei menyatakan bahwa mereka kini secara aktif memperhitungkan serangan bermotif geopolitik dalam perencanaan pertahanan siber mereka. Ketegangan antarnegara tidak lagi hanya terjadi di perbatasan fisik, tetapi bermanifestasi dalam serangan terhadap infrastruktur digital korporasi.

Tren 3: Demokratisasi Target (Semua Orang Bisa Kena)

Mitos bahwa serangan siber hanya menargetkan sistem teknis telah runtuh. Tren ketiga menyoroti sifat serangan yang semakin luas dan personal.

  • Statistik Penipuan: Sebanyak 73% responden melaporkan bahwa mereka sendiri, atau seseorang dalam jaringan profesional mereka, telah menjadi korban penipuan siber (cyber-enabled fraud) pada tahun lalu.
  • Divergensi C-Level: Dampak personal ini mengubah prioritas pimpinan. Para CEO kini menempatkan penipuan siber sebagai kekhawatiran nomor satu mereka. Sementara itu, para CISO (Chief Information Security Officers) masih bergulat dengan ancaman teknis seperti ransomware dan ketahanan rantai pasok.

Laporan WEF ini mengonfirmasi bahwa kita sedang berada di titik infleksi. Kenaikan drastis dalam penilaian keamanan AI (dari 37% ke 64%) adalah sinyal positif, namun angka 87% responden yang khawatir akan kerentanan AI menunjukkan bahwa industri masih merasa "tertinggal" dalam memahami risiko teknologi yang mereka adopsi sendiri.

Bagikan:

Avatar

Andhika RDigital Marketing at Fourtrezz

Semua Artikel

Artikel Terpopuler

Berlangganan Newsletter FOURTREZZ

Jadilah yang pertama tahu mengenai artikel baru, produk, event, dan promosi.

Partner Pendukung

infinitixyberaditif

© 2026 PT Tiga Pilar Keamanan. All Rights Reserved.
Info Ordal