Kamis, 20 Maret 2025 | 15 min read | Andhika R

Malware Tersembunyi di Balik File Gambar: Ancaman Siber yang Sulit Terdeteksi

File gambar yang tampak biasa di layar komputer Anda bisa saja menyimpan ancaman tak terlihat. Banyak pengguna awam tidak menyadari bahwa gambar pun dapat menjadi vektor serangan siber yang efektif. Sebagai contoh nyata, pada tahun 2022 terungkap kelompok peretas Witchetty yang menyembunyikan malware berbahaya di balik gambar logo Windows lama menggunakan teknik steganografi. Gambar tersebut tampak normal bagi mata manusia, namun di dalamnya tersisip kode malware backdoor yang digunakan untuk memata-matai target mereka. Kasus ini menunjukkan bahwa bahkan file gambar yang terlihat aman sekalipun dapat dijadikan kendaraan bagi program jahat.

Ancaman malware tersembunyi dalam gambar ini merupakan masalah serius. Malware dalam file gambar sulit dideteksi oleh antivirus konvensional karena penyamarannya sangat rapi dan tidak mengubah penampakan visual file tersebut. Akibatnya, banyak pengguna cenderung mengabaikan potensi bahaya dari file gambar. Padahal, sekali perangkat terinfeksi, malware dapat mencuri data pribadi pengguna atau bahkan mengambil alih kendali perangkat korban tanpa disadari.

Ancaman semacam ini nyata adanya dan cenderung meningkat belakangan ini. Penelitian keamanan siber terbaru mengungkap berbagai metode baru untuk menyisipkan malware ke dalam file gambar yang menargetkan korban di berbagai wilayah. Artinya, teknik serangan melalui media gambar terus berkembang dan meluas. Pengguna internet harus lebih waspada dan tidak lagi memandang remeh file gambar yang diterima ataupun diunduh, karena di balik tampilan yang tidak mencurigakan bisa tersembunyi program berbahaya.

Malware Tersembunyi di Balik File Gambar Ancaman Siber yang Sulit Terdeteksi.webp

Cara Kerja Malware Tersembunyi dalam Gambar

Steganografi sebagai Teknik Utama: Cara utama penyerang menyembunyikan malware dalam gambar adalah melalui teknik steganografi. Steganografi merupakan metode menyamarkan data rahasia ke dalam media lain – dalam hal ini file gambar – tanpa mengubah wujud luarnya. Dalam konteks serangan siber, pelaku akan menanamkan kode berbahaya ke dalam sebuah gambar digital, tetapi gambar tersebut tetap terlihat normal dan dapat dibuka seperti biasa. Informasi berbahaya ditanam sedemikian rupa sehingga tidak terdeteksi secara kasat mata maupun oleh pemeriksaan sekilas perangkat lunak keamanan. Gambar yang sudah disisipi malware ini secara visual identik dengan gambar asli, sehingga korban tidak curiga bahwa ada muatan rahasia di dalamnya.

Penyisipan Kode Berbahaya (Metode LSB): Salah satu teknik umum untuk menyembunyikan malware dalam gambar adalah memanfaatkan bit paling tidak signifikan pada setiap piksel gambar, dikenal sebagai teknik LSB (Least Significant Bit). Setiap piksel gambar digital tersusun atas kode biner; penyerang dapat mengubah bit terakhir pada sebagian piksel untuk menyimpan potongan kode malware. Perubahan pada bit terakhir ini tidak berdampak signifikan pada warna atau kualitas gambar, sehingga perbedaan tersebut tidak terlihat oleh mata manusia. Dengan cara inilah kode berbahaya dapat “menumpang” di file gambar tanpa merusak file tersebut. Selain melalui manipulasi piksel, terkadang data berbahaya juga bisa disisipkan pada metadata atau bagian header file gambar, namun teknik LSB pada piksel merupakan salah satu yang paling populer karena efektivitasnya dalam menyembunyikan malware tanpa terdeteksi perubahan visual apa pun.

Eksekusi Malware Tersembunyi: Meskipun kode malware telah tertanam di dalam file gambar, program jahat tersebut tidak akan aktif hanya dengan melihat gambar secara biasa. Malware tersembunyi baru akan dieksekusi jika dipicu dengan cara tertentu. Salah satu skenario adalah penyerang menyertakan skrip atau program tambahan yang bertugas mengekstrak dan menjalankan kode tersembunyi dari gambar tersebut. Sebagai contoh, malware mungkin terdiri dari dua komponen: file gambar berisi kode berbahaya dan sebuah program loader terpisah yang ketika dijalankan akan membaca data di dalam gambar dan mengeksekusinya. Selain itu, eksekusi juga bisa terjadi bila ada celah keamanan pada perangkat lunak yang memproses gambar. Misalnya, pernah dilaporkan celah pada aplikasi pesan yang memungkinkan file gambar berbahaya menjalankan kode tak diinginkan saat dibuka pengguna. Contoh kasus nyata adalah kerentanan pada WhatsApp beberapa tahun lalu, di mana file gambar berformat GIF yang telah dimodifikasi dapat mengeksploitasi bug memori dan menjalankan kode jahat di perangkat korban ketika gambar tersebut ditampilkan. Dengan memanfaatkan kerentanan semacam ini, malware dalam gambar dapat aktif otomatis saat file dibuka, tanpa memerlukan tindakan lanjutan dari korban.

Tidak Terlihat Secara Kasat Mata: Penting untuk ditekankan bahwa pengguna tidak dapat mengenali malware dalam gambar hanya dengan melihatnya. File gambar yang telah disusupi malware umumnya tidak menunjukkan perbedaan ukuran atau tampilan yang mencolok dibanding file normal. Secara kasat mata, gambar tersebut terlihat sama persis dengan gambar asli yang bersih. Hal ini membuat malware steganografi sangat berbahaya, karena korban tidak memiliki indikasi apa pun untuk curiga. Berbeda dengan file eksekusi mencurigakan atau program yang memicu peringatan keamanan, file gambar cenderung dianggap aman oleh pengguna awam. Inilah sebabnya teknik ini efektif: penyerang bersembunyi di balik “penyamaran” sempurna, memanfaatkan fakta bahwa manusia dan sering kali software antivirus tidak dapat membedakan mana gambar yang murni dan mana yang sudah disusupi kode berbahaya tanpa analisis mendalam.

Metode Penyebaran oleh Pelaku Kejahatan Siber

Para pelaku kejahatan siber menggunakan berbagai cara untuk menyebarkan malware tersembunyi dalam file gambar. Berikut beberapa metode yang umum digunakan:

  • Phishing melalui Email: Salah satu cara paling sering adalah lewat phishing email dengan lampiran gambar berbahaya. Penjahat siber akan mengirim email yang tampak resmi atau menarik, disertai file gambar yang telah disisipi malware. Misalnya, korban menerima email dengan lampiran foto atau dokumen gambar (seperti .jpg atau .png) yang kelihatannya tidak berbahaya. Jika korban mengunduh dan membuka lampiran tersebut, malware tersembunyi dapat terlepas ke sistem komputer. Metode ini efektif karena banyak orang terbiasa menerima lampiran gambar (foto keluarga, ilustrasi, dsb.) dan cenderung mempercayainya tanpa curiga.
  • Media Sosial dan Aplikasi Pesan Instan: Jejaring sosial dan aplikasi chat juga dimanfaatkan sebagai media penyebaran malware tersembunyi. Penyerang dapat menyebarkan gambar berisi malware melalui posting di media sosial, forum, atau mengirimkannya langsung ke target lewat aplikasi perpesanan seperti WhatsApp, Telegram, atau email berbasis web. Gambar yang dibagikan mungkin berupa meme, infografik, atau foto menarik yang mendorong orang untuk mengunduh. Begitu file gambar tersebut dibuka di perangkat korban, kode jahat di dalamnya bisa dieksekusi (terutama jika memanfaatkan celah pada aplikasi atau sistem). Di platform pesan instan, sering kali pengguna saling berbagi gambar tanpa banyak prasangka, sehingga penyerang mencoba menyisipkan malware di sana dengan harapan penularan secara luas melalui kepercayaan antar pengguna.
  • Situs Web Berbahaya: Banyak kasus di mana situs web yang sudah diretas atau memang dibuat jahat sengaja menyisipkan gambar berisi malware untuk menjangkiti pengunjung. Teknik ini dapat berupa memasang gambar yang sudah disusupi kode berbahaya di halaman web, sehingga ketika pengguna mengunjungi halaman tersebut, gambar akan diunduh ke browser atau cache komputer korban. Jika terdapat kerentanan pada peramban atau komponen penampil gambar, malware bisa langsung masuk. Bahkan tanpa eksploitasi otomatis, penjahat siber dapat mengandalkan pengguna untuk mengklik gambar (misalnya banner iklan atau tautan gambar menarik) dan mengunduh file gambar tersebut. Setelah berada di komputer korban, malware dalam gambar berpotensi diaktifkan oleh mekanisme lain. Situs web yang tampak normal pun bisa menjadi sumber penularan jika penjahat telah menyelipkan konten gambar berbahaya di dalamnya, sehingga penting bagi pengguna untuk berhati-hati saat mengunduh gambar dari sumber yang tidak terpercaya.
  • Iklan Berbahaya (Malvertising): Malvertising adalah metode penyebaran malware melalui iklan daring yang disusupi kode jahat. Dalam konteks malware steganografi, penyerang dapat memasang iklan bergambar yang terlihat legitimate di website populer, padahal gambar iklan tersebut telah diselipi malware. Pengguna internet mungkin melihat banner iklan atau gambar promosi dan menganggapnya wajar, namun dibalik itu ada skrip tersembunyi atau eksploitasi yang dijalankan. Bahkan tanpa diklik, iklan berbahaya dapat memuat gambar berisi kode malware yang memanfaatkan celah keamanan di browser untuk menginfeksi perangkat korban. Kampanye malvertising semacam ini pernah terjadi dan menjangkiti banyak pengguna di berbagai situs besar, karena iklan berbahaya tersebut tayang melalui jaringan iklan resmi. Iklan dengan konten gambar menjadi kuda troya yang sempurna untuk menyebarkan malware secara masif, sebab pengguna sulit membedakan mana iklan yang aman dan mana yang sudah disusupi.
  • Penyamaran File Eksekusi sebagai Gambar: Metode penipuan klasik yang masih sering berhasil adalah menyamarkan file eksekusi malware agar terlihat seperti file gambar. Pelaku dapat memberi nama dan ikon file malware seolah-olah itu sebuah foto atau gambar biasa. Sebagai contoh, file berbahaya “malware.exe” dapat diubah namanya menjadi “foto_liburan.jpg.exe”. Pada sistem Windows yang menyembunyikan ekstensi file yang dikenal, korban hanya akan melihat nama file “foto_liburan.jpg” dengan ikon gambar, lalu mengira itu file gambar asli. Ketika korban mengkliknya, sistem sebenarnya menjalankan file .exe tersebut dan menginstal malware. Taktik serupa terjadi di ponsel, misalnya file APK berbahaya di Android diberi ikon thumbnail gambar agar pengguna mengira itu file gambar atau video, padahal saat dibuka justru memasang aplikasi malware. Penyamaran melalui ekstensi dan ikon ini memanfaatkan kelengahan pengguna dalam memeriksa jenis file, sehingga korban menjalankan malware secara sukarela karena percaya file tersebut aman.

Dampak Malware Tersembunyi dalam Gambar bagi Pengguna Umum

Apabila malware tersembunyi dalam gambar berhasil menginfeksi perangkat, dampaknya bisa sangat merugikan bagi pengguna. Berikut adalah beberapa dampak serius yang dapat dialami korban:

  • Pencurian Data Pribadi: Malware yang masuk melalui file gambar dapat menjalankan fungsi pencurian data sensitif milik pengguna. Informasi pribadi seperti username, password, data perbankan, atau nomor kartu kredit bisa dicuri dan dikirim ke server pelaku. Beberapa malware merekam ketikan keyboard (keylogger) untuk menangkap kredensial login, atau memindai file dokumen di komputer guna memperoleh data penting. Akibatnya, korban berisiko mengalami pencurian identitas, pembobolan akun, hingga kerugian finansial jika data perbankan disalahgunakan. Yang lebih parah, pencurian ini kerap terjadi tanpa gejala yang kentara, sehingga pengguna baru menyadari setelah kerusakan terjadi (misalnya saldo rekening hilang atau akun media sosial diambil alih).
  • Pengambilalihan Perangkat: Selain mencuri data, malware tersembunyi dapat membuka akses pintu belakang (backdoor) bagi penyerang ke perangkat korban. Artinya, penjahat siber bisa mendapatkan kendali penuh atas komputer atau ponsel yang terinfeksi. Dampaknya, perangkat korban dapat dijalankan dari jarak jauh untuk berbagai tujuan jahat. Misalnya, penyerang dapat mengendalikan kamera atau mikrofon secara diam-diam untuk memata-matai, memasang program tambahan lain (seperti spyware atau botnet), atau menggunakan perangkat korban sebagai proxy untuk melancarkan serangan ke target lain. Bagi pengguna, pengambilalihan ini sangat berbahaya karena privasi benar-benar hilang dan perangkat tidak lagi sepenuhnya berada dalam kontrol mereka. Bahkan, dalam banyak kasus korban tidak menyadari perangkatnya sudah dikuasai orang lain.
  • Perusakan dan Disrupsi Sistem: Beberapa jenis malware yang disebarkan melalui file gambar dapat merusak data atau sistem perangkat secara langsung. Sebagai contoh, malware mungkin menghapus atau merusak file-file penting di komputer korban, yang menyebabkan kehilangan data berharga. Lebih canggih lagi, terdapat malware jenis ransomware yang bisa aktif dan mengenkripsi seluruh file di perangkat korban, kemudian meminta tebusan untuk memulihkan data tersebut. Serangan semacam ini jelas menimbulkan disrupsi besar: pengguna tidak dapat mengakses dokumen, foto, atau database kerjanya, aktivitas sehari-hari terhenti, dan korban diperas secara finansial. Selain itu, malware juga dapat membuat sistem menjadi tidak stabil, sering crash, atau performa melambat drastis, mengakibatkan kerusakan jangka panjang pada perangkat jika tidak segera ditangani.
  • Penyebaran ke Jaringan Lain: Ancaman malware dalam gambar tidak berhenti di satu perangkat saja. Setelah menginfeksi satu komputer atau ponsel, malware tersebut dapat mencoba menyebar ke perangkat lain dalam jaringan yang sama. Misalnya, jika sebuah laptop di jaringan kantor terinfeksi, malware bisa memindai jaringan lokal dan menyerang komputer lain melalui share file, email internal, atau eksploitasi kerentanan jaringan. Dalam konteks rumah, perangkat yang terhubung ke Wi-Fi yang sama (komputer lain, ponsel anggota keluarga, bahkan perangkat IoT) bisa ikut tertular. Hal ini membuat satu file gambar berbahaya berpotensi memicu wabah malware di tingkat jaringan yang lebih luas. Bagi pengguna umum, implikasinya adalah seluruh perangkat yang terkoneksi (baik milik pribadi maupun rekan/keluarga) ikut berisiko, sehingga dampak kerusakan dan pencurian data dapat meluas.
  • Kehilangan Kepercayaan dan Rasa Aman: Dampak jangka panjang yang tidak kalah penting adalah berkurangnya rasa percaya pengguna terhadap keamanan digital sehari-hari. Mengetahui bahwa file gambar pun dapat membawa malware mengikis rasa aman ketika berinternet. Pengguna mungkin menjadi waswas saat menerima gambar atau foto melalui email maupun chat, bahkan dari sumber yang dikenalnya, karena khawatir ada ancaman tersembunyi. Kejadian pembobolan melalui sarana yang tidak terduga seperti ini juga dapat menimbulkan trauma digital; korban bisa merasa paranoid dan selalu curiga terhadap berkas apapun yang diunduh. Pada skala yang lebih luas, serangan semacam ini merusak kepercayaan masyarakat terhadap konten digital yang sebelumnya dianggap jinak. Dampak psikologis dan sosial ini sulit diukur, namun nyata terasa: pengguna internet menjadi lebih berhati-hati dan mungkin membatasi interaksi digitalnya demi keamanan, yang pada akhirnya dapat mengurangi kenyamanan dan pengalaman positif dalam berinternet.

Tanda-tanda Gambar yang Mengandung Malware

Meskipun malware yang disisipkan dalam gambar sulit dideteksi, ada beberapa tanda yang dapat membantu pengguna mengidentifikasi potensi ancaman. Berikut adalah beberapa indikasi yang perlu diwaspadai:

  1. Ekstensi atau Nama File yang Mencurigakan

Salah satu cara termudah untuk mengenali gambar berbahaya adalah memeriksa ekstensi file. Penyerang sering kali menggunakan trik penyamaran dengan menggandakan atau mengubah ekstensi file untuk mengelabui pengguna. Contoh umum meliputi:

  • foto_liburan.jpg.exe → Tampak seperti gambar, tetapi sebenarnya file eksekusi.
  • dokumen.png.scr → File gambar yang ternyata berisi skrip berbahaya.
  • wallpaper.jpg.zip → Gambar yang dikompresi, berpotensi membawa malware di dalamnya.

Pada sistem operasi Windows, ekstensi file sering kali disembunyikan secara default, sehingga pengguna hanya melihat bagian awal nama file (misalnya, foto_liburan.jpg tanpa mengetahui bahwa ekstensi sebenarnya adalah .exe). Oleh karena itu, disarankan untuk menampilkan ekstensi file di pengaturan sistem guna menghindari jebakan ini.

  1. Ukuran File yang Tidak Wajar

Ukuran file gambar dapat menjadi indikator adanya muatan tersembunyi. Sebagai contoh, gambar JPEG atau PNG dengan resolusi rendah biasanya berukuran di bawah 1 MB. Jika Anda menemukan file gambar kecil tetapi ukurannya beberapa megabyte (MB), ada kemungkinan file tersebut telah dimanipulasi untuk menyisipkan kode tambahan.

Sebaliknya, jika sebuah gambar berukuran besar tetapi resolusinya sangat rendah, itu juga bisa menjadi tanda bahwa file tersebut berisi sesuatu yang tidak seharusnya. Dalam kasus steganografi malware, kode berbahaya bisa mengisi bagian tak terlihat dari gambar tanpa mengubah tampilan visualnya.

  1. Perilaku Sistem Setelah Membuka Gambar

Jika setelah membuka atau mengunduh gambar terjadi gejala berikut, ada kemungkinan perangkat telah terinfeksi:

  • Perangkat tiba-tiba melambat atau mengalami lag.
  • Muncul program atau proses tidak dikenal berjalan di latar belakang.
  • Tingkat penggunaan CPU atau RAM meningkat tajam tanpa alasan yang jelas.
  • Jaringan internet aktif terus-menerus meskipun tidak ada aplikasi yang sedang digunakan.
  • File atau ikon di desktop tiba-tiba berubah atau menghilang.

Jika tanda-tanda ini muncul segera setelah membuka atau mengunduh sebuah gambar, ada kemungkinan gambar tersebut telah mengaktifkan malware tersembunyi.

  1. Peringatan dari Software Keamanan

Antivirus dan anti-malware modern memiliki fitur untuk mendeteksi pola steganografi yang sering digunakan dalam serangan siber. Jika Anda mendapatkan peringatan dari antivirus ketika mengunduh atau membuka file gambar, jangan abaikan peringatan tersebut meskipun file tampak normal.

Beberapa layanan online seperti VirusTotal memungkinkan pengguna untuk mengunggah file mencurigakan dan memindainya dengan berbagai mesin antivirus sebelum dibuka. Jika Anda ragu terhadap suatu gambar, lakukan pengecekan sebelum membukanya.

  1. Sumber Gambar Tidak Tepercaya

Sebelum mengunduh atau membuka gambar, tanyakan pada diri sendiri:
✔ Apakah gambar ini berasal dari sumber yang terpercaya?
✔ Apakah saya mengenal pengirimnya?
✔ Apakah gambar ini dikirim dengan alasan yang tidak jelas atau mencurigakan?

Hindari mengunduh gambar dari:

  • Email phishing yang mengklaim gambar berisi informasi penting.
  • Situs web tidak dikenal yang menawarkan gambar gratis tanpa reputasi yang jelas.
  • Media sosial atau grup chat di mana file gambar dikirim oleh orang asing atau dengan pesan aneh.

Menjaga kewaspadaan terhadap sumber file gambar dapat mengurangi risiko terkena serangan malware tersembunyi.

Cara Melindungi Diri dari Ancaman Ini (Tips Keamanan)

Untuk mencegah serangan malware tersembunyi dalam gambar, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh pengguna internet agar tetap aman.

  1. Hati-hati Saat Mengunduh File Gambar
  • Hanya unduh gambar dari situs web dan sumber terpercaya seperti situs berita resmi, platform berbagi gambar terkenal, atau penyedia konten berlisensi.
  • Jangan pernah mengunduh gambar dari email atau pesan instan yang mencurigakan, terutama jika dikirim dari alamat yang tidak dikenal.
  • Periksa URL dan domain situs sebelum mengklik gambar. Hindari situs dengan domain aneh atau tidak dikenal.
  1. Periksa Ekstensi dan Format File Sebelum Membuka
  • Aktifkan tampilan ekstensi file pada sistem operasi Anda untuk melihat apakah file benar-benar memiliki format gambar (misalnya .jpg, .png, .gif).
  • Jangan buka gambar dengan ekstensi ganda seperti .jpg.exe, .png.scr, atau .gif.vbs, karena ini bisa menjadi malware yang menyamar.
  • Waspada terhadap file gambar dalam format ZIP atau RAR yang meminta Anda untuk mengekstraknya sebelum melihat isinya.
  1. Gunakan Software Keamanan dan Perbarui Secara Berkala
  • Pasang antivirus dan anti-malware terpercaya di perangkat Anda dan pastikan selalu diperbarui.
  • Gunakan fitur real-time protection yang dapat mencegah eksekusi malware secara otomatis.
  • Lakukan pemindaian file gambar sebelum membukanya, terutama jika berasal dari sumber yang tidak dikenal.
  1. Selalu Perbarui Sistem dan Aplikasi
  • Perbarui sistem operasi dan aplikasi pengolah gambar secara berkala untuk menutup celah keamanan yang dapat dimanfaatkan oleh malware.
  • Pastikan browser dan plugin media terbaru digunakan untuk mencegah eksploitasi dari situs web berbahaya.
  • Jika ada pembaruan keamanan yang dirilis oleh pengembang perangkat lunak, segera instal untuk menghindari risiko serangan.
  1. Jangan Klik Gambar atau Tautan Sembarangan
  • Hindari mengklik gambar atau tautan mencurigakan yang dikirim melalui email, pesan singkat, atau media sosial.
  • Jika menerima gambar dalam email dari orang yang tidak dikenal, jangan langsung membukanya, terutama jika disertai tautan aneh atau pesan yang mendesak.
  • Gunakan layanan pemindai online seperti VirusTotal untuk mengecek keamanan file gambar sebelum dibuka.
  1. Gunakan Sandbox atau Viewer Aman untuk Memeriksa File Mencurigakan
  • Jika harus membuka file gambar dari sumber yang tidak sepenuhnya terpercaya, gunakan sandbox atau mesin virtual untuk membatasi dampak potensial jika file tersebut ternyata berbahaya.
  • Hindari membuka file gambar dalam aplikasi yang memiliki riwayat celah keamanan, seperti aplikasi pesan instan atau email berbasis web yang belum diperbarui.

Kesimpulan

Ancaman malware tersembunyi dalam gambar adalah serangan siber yang semakin canggih dan sulit dideteksi oleh pengguna awam. Teknik steganografi memungkinkan penjahat siber menyisipkan kode berbahaya ke dalam file gambar tanpa mengubah tampilan visualnya. Malware semacam ini dapat tersebar melalui email phishing, media sosial, situs web yang diretas, hingga iklan berbahaya (malvertising).

Untuk melindungi diri, pengguna harus lebih waspada dalam mengunduh dan membuka file gambar, memeriksa ekstensi serta ukuran file, serta menggunakan perangkat lunak keamanan yang selalu diperbarui. Kewaspadaan dan edukasi adalah kunci utama untuk menghindari serangan ini. Dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang telah dijelaskan, risiko terinfeksi malware tersembunyi dapat diminimalkan, sehingga pengalaman berinternet tetap aman dan nyaman.

Bagikan:

Avatar

Andhika RDigital Marketing at Fourtrezz

Semua Artikel

Artikel Terpopuler

Berlangganan Newsletter FOURTREZZ

Jadilah yang pertama tahu mengenai artikel baru, produk, event, dan promosi.

Partner Pendukung

infinitixyberaditif

© 2025 PT Tiga Pilar Keamanan. All Rights Reserved.
Info Ordal