Selasa, 24 Februari 2026 | 6 min read | Andhika R

Mengapa Temuan Pentest Sering Berakhir di Laci Meja Manajemen? Sebuah Otopsi Strategis atas Stagnasi Mitigasi Siber

Dunia korporasi Indonesia saat ini sedang berada dalam titik nadir keamanan digital. Di satu sisi, investasi untuk penetration testing terus meningkat seiring dengan ketatnya regulasi, seperti Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP). Namun, di sisi lain, tumpukan laporan kerentanan yang dihasilkan dari pengujian tersebut seringkali hanya menjadi artefak digital yang tidak pernah dieksekusi. Ada sebuah jurang pemisah yang lebar antara temuan teknis yang ditemukan oleh para auditor dan keputusan strategis yang diambil oleh jajaran direksi.

Fenomena stagnasi mitigasi ini merupakan pola yang kerap kali teridentifikasi dalam berbagai proyek penetration testing yang kami jalankan lintas industri di tanah air. Masalahnya bukan lagi terletak pada kecanggihan alat pemindai atau keahlian para peretas etis, melainkan pada ketidakmampuan organisasi dalam menerjemahkan risiko siber menjadi bahasa nilai bisnis.

Mengapa Temuan Pentest Sering Berakhir di Laci Meja Manajemen Sebuah Otopsi Strategis atas Stagnasi Mitigasi Siber.webp

Paradoks Investasi dan Implementasi

Secara teoritis, penetration testing dilakukan untuk menemukan celah sebelum aktor jahat menemukannya. Namun, realitas di lapangan menunjukkan sebuah kontradiksi yang mengkhawatirkan. Perusahaan bersedia membayar mahal untuk fase pengujian, tetapi mendadak menjadi sangat konservatif saat harus mengalokasikan sumber daya untuk perbaikan.

Hal ini sering kali berakar pada persepsi bahwa keamanan siber adalah "pusat biaya" (cost center) dan bukan "pemampu bisnis" (business enabler). Dalam banyak rapat anggaran, usulan mitigasi sering kali kalah telak oleh proyek pengembangan fitur baru yang dianggap lebih memberikan keuntungan langsung secara finansial. Padahal, menurut laporan IBM Cost of a Data Breach 2023, rata-rata kerugian akibat kebocoran data telah mencapai angka yang dapat melumpuhkan stabilitas perusahaan menengah dalam sekejap.

Kegagalan CVSS dalam Menangkap Konteks Bisnis

Salah satu alasan mengapa manajemen sering mengabaikan temuan adalah ketergantungan yang berlebihan pada skor Common Vulnerability Scoring System (CVSS). Secara teknis, skor 9.0 (Critical) memang tampak menakutkan. Namun, bagi seorang Direktur Operasional, angka tersebut tidak berarti apa pun jika tidak disertai dengan konteks operasional.

Sebagai contoh, sebuah kerentanan Remote Code Execution (RCE) pada server pengembangan yang tidak berisi data sensitif mungkin mendapatkan skor teknis yang tinggi. Namun, secara strategis, risikonya jauh lebih rendah dibandingkan celah Insecure Direct Object Reference (IDOR) pada database pelanggan utama yang skor teknisnya mungkin hanya "Medium". Ketika tim keamanan menyodorkan daftar panjang tanpa prioritas yang selaras dengan kepentingan bisnis, manajemen cenderung melakukan filter secara acak atau, yang lebih buruk, mengabaikan semuanya karena merasa kewalahan.

Komunikasi Asimetris: Bahasa Biner vs. Bahasa Neraca

Masalah mendasar lainnya adalah asimetri informasi. Auditor keamanan berbicara dalam bahasa biner, enkripsi, dan protokol, sementara manajemen berbicara dalam bahasa pertumbuhan, efisiensi, dan risiko reputasi. Ketidakmampuan untuk menjembatani dua dunia ini menciptakan kebuntuan.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Cybersecurity menunjukkan bahwa komunikasi risiko yang paling efektif adalah komunikasi yang mampu memvisualisasikan potensi kerugian dalam satuan moneter. Alih-alih mengatakan, "Kita memiliki kerentanan pada protokol TLS," tim keamanan akan lebih didengar jika mengatakan, "Protokol transmisi kita yang usang dapat menyebabkan kegagalan transaksi senilai miliaran Rupiah dan potensi denda dari regulator sebesar dua persen dari pendapatan tahunan."

Psikologi Ketidaksadaran Risiko (Optimism Bias)

Di ruang rapat direksi, sering kali muncul sebuah bias kognitif yang disebut optimism bias—keyakinan bahwa "hal buruk tidak akan terjadi pada kita." Banyak eksekutif di Indonesia yang masih merasa bahwa perusahaan mereka bukan target utama peretasan karena merasa industrinya tidak cukup menarik.

Realitasnya, serangan siber saat ini bersifat oportunistik. Ransomware tidak memilih korbannya berdasarkan nama besar semata, melainkan berdasarkan tingkat kerentanan yang paling mudah dieksploitasi. Sikap meremehkan ini membuat laporan penetration testing dipandang sebagai kewajiban administratif untuk memenuhi syarat kepatuhan (audit) semata, bukan sebagai instrumen perlindungan aset nyata.

Tantangan Operasional dan Beban Kerja Tim IT

Kita juga tidak boleh menutup mata terhadap beban kerja tim IT internal. Setelah laporan penetration testing diserahkan, beban mitigasi sepenuhnya jatuh ke tangan tim infrastruktur atau pengembang. Sering kali, tim-tim ini sudah tercekik oleh deadline pengembangan produk dan pemeliharaan rutin.

Tanpa adanya instruksi langsung dan dukungan sumber daya dari manajemen puncak, tim IT akan memprioritaskan tugas-tugas yang paling berpengaruh pada penilaian kinerja mereka—yang biasanya adalah kecepatan peluncuran fitur, bukan keamanan. Keamanan sering kali dianggap sebagai penghambat (bottleneck) yang memperlambat proses rilis aplikasi.

Urgensi Transformasi Postur Keamanan

Melihat lanskap ancaman yang semakin agresif, perusahaan tidak bisa lagi memperlakukan keamanan siber sebagai bagian dari IT. Keamanan siber adalah bagian integral dari manajemen risiko korporasi. Temuan dalam penetration testing harus dilihat sebagai indikator kesehatan organisasi secara keseluruhan.

Perusahaan perlu mulai mengadopsi kerangka kerja seperti NIST (National Institute of Standards and Technology) atau ISO 27001 secara substantif, bukan hanya formalitas sertifikasi. Hal ini melibatkan pembuatan jalur komunikasi yang jelas antara Chief Information Security Officer (CISO) dan jajaran direksi, di mana setiap temuan kritis memiliki jalur eskalasi yang jelas dan anggaran mitigasi yang sudah diposkan sejak awal tahun fiskal.

Menuju Budaya Keamanan yang Proaktif

Langkah pertama untuk keluar dari siklus laporan yang terabaikan adalah dengan mengubah budaya organisasi. Keamanan harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas satu departemen. Manajemen perlu memahami bahwa biaya mitigasi hari ini jauh lebih murah daripada biaya pemulihan pasca-insiden yang mencakup biaya forensik, penggantian sistem, denda regulasi, hingga hilangnya kepercayaan pelanggan yang sulit diukur harganya.

Keberhasilan sebuah penetration testing tidak diukur dari seberapa banyak celah yang ditemukan, tetapi dari seberapa banyak celah yang berhasil ditutup dengan cara yang efisien dan berkelanjutan. Penilaian risiko harus bersifat dinamis dan terus-menerus menyesuaikan dengan perubahan strategi bisnis perusahaan.

Kesimpulan dan Langkah Strategis Bersama Fourtrezz

Mengelola keamanan digital di era transformasi saat ini menuntut ketajaman analisis yang tidak hanya berhenti pada laporan teknis, tetapi mampu menyentuh aspek strategis perusahaan. Kita telah melihat bahwa penghambat utama keamanan bukanlah ketiadaan teknologi, melainkan ketiadaan sinkronisasi antara temuan di lapangan dengan pengambilan keputusan di tingkat atas. Mengubah paradigma ini membutuhkan mitra yang tidak hanya memahami kode-kode rumit di balik aplikasi, tetapi juga memahami dinamika bisnis di Indonesia.

Sebagai perusahaan yang berdedikasi dalam memperkuat ekosistem digital, Fourtrezz menawarkan pendekatan yang berbeda. Layanan penetration testing kami dirancang untuk menjembatani celah komunikasi tersebut. Kami tidak hanya menyajikan data mentah mengenai kerentanan, tetapi kami menyertakan analisis dampak bisnis yang mendalam agar manajemen Anda dapat mengambil keputusan mitigasi yang tepat sasaran dan terukur.

Kami percaya bahwa setiap temuan keamanan adalah peluang untuk memperkuat daya saing perusahaan Anda di pasar. Dengan dukungan tenaga ahli yang bersertifikasi dan berpengalaman dalam menangani infrastruktur kritis, Fourtrezz siap menjadi rekan strategis Anda dalam menghadapi tantangan siber yang semakin kompleks. Pastikan investasi keamanan Anda tidak berakhir sia-sia dan bertransformasi menjadi perlindungan aset yang nyata.

Untuk diskusi lebih mendalam mengenai bagaimana kami dapat membantu menyelaraskan keamanan teknis dengan prioritas bisnis Anda, silahkan menghubungi kami melalui saluran resmi berikut:

Fourtrezz

Website: www.fourtrezz.co.id
WhatsApp: +62 857-7771-7243
Email: [email protected]

Bagikan:

Avatar

Andhika RDigital Marketing at Fourtrezz

Semua Artikel

Artikel Terpopuler

Berlangganan Newsletter FOURTREZZ

Jadilah yang pertama tahu mengenai artikel baru, produk, event, dan promosi.

Partner Pendukung

infinitixyberaditif

© 2026 PT Tiga Pilar Keamanan. All Rights Reserved.
Info Ordal