Selasa, 3 Februari 2026 | 7 min read | Andhika R

Mobile App Pentest: 7 Kesalahan Arsitektur yang Membuat Aplikasi Anda “Bocor” Meski Pakai HTTPS

Dalam diskursus keamanan siber modern, terdapat satu miskonsepsi yang sangat persisten dan berbahaya: anggapan bahwa implementasi Transport Layer Security (TLS) melalui HTTPS adalah akhir dari perjalanan pengamanan data. Bagi banyak organisasi, ikon gembok hijau pada peramban atau penggunaan sertifikat SSL pada komunikasi API dianggap sebagai benteng yang tak tertembus. Namun, bagi para praktisi keamanan, pandangan ini adalah sebuah simplifikasi yang justru membuka celah eksploitasi yang luas.

Keamanan aplikasi mobile bersifat multidimensi. Ia mencakup keamanan pada perangkat (at rest), keamanan saat data berpindah (in transit), dan keamanan pada logika server (backend). HTTPS hanya menangani satu irisan kecil dari spektrum tersebut. Temuan-temuan teknis ini merupakan pola yang kerap kali teridentifikasi dalam rangkaian uji penetrasi yang kami lakukan terhadap berbagai infrastruktur korporasi di tanah air. Kegagalan dalam memahami bahwa arsitektur aplikasi lebih krusial daripada sekadar enkripsi saluran komunikasi adalah alasan mengapa kebocoran data tetap marak terjadi di tengah tren digitalisasi yang masif.

Mobile App Pentest 7 Kesalahan Arsitektur yang Membuat Aplikasi Anda “Bocor” Meski Pakai HTTPS.webp

Paradoks Enkripsi: Mengapa HTTPS Saja Tidak Cukup?

Secara fundamental, HTTPS berfungsi untuk mencegah serangan Eavesdropping dan Man-in-the-Middle (MitM) selama data berada dalam perjalanan antara aplikasi mobile dan server. Namun, HTTPS tidak memiliki kemampuan untuk memvalidasi apakah data tersebut disimpan secara aman di dalam memori ponsel, atau apakah logika bisnis di balik API tersebut mampu membedakan antara akses legal dan ilegal.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam berbagai jurnal keamanan siber internasional, lebih dari 70% kerentanan aplikasi mobile justru berasal dari kelemahan logika arsitektur dan kegagalan pengelolaan identitas, bukan dari protokol komunikasi. Dengan kata lain, peretas tidak perlu lagi mencoba memecahkan enkripsi SSL yang rumit; mereka cukup mencari pintu belakang yang tidak terkunci pada arsitektur aplikasi Anda.

7 Kesalahan Arsitektur Fatal dalam Aplikasi Mobile

Untuk membangun sistem yang benar-benar tangguh, kita harus membedah satu per satu anomali arsitektur yang sering kali dianggap remeh oleh tim pengembang.

1. Insecure Local Data Storage: Titik Buta di Ujung Jari

Banyak pengembang beroperasi di bawah asumsi bahwa ekosistem sistem operasi mobile seperti Android dan iOS sudah cukup aman untuk mengisolasi data aplikasi. Faktanya, penggunaan Shared Preferences (Android) atau UserDefaults (iOS) dalam bentuk teks polos (plain text) adalah sebuah kelalaian fatal.

Meskipun data dikirim melalui HTTPS yang sangat kuat, data tersebut akhirnya mendarat di perangkat pengguna dalam keadaan telanjang. Jika perangkat tersebut berhasil di-root atau di-jailbreak, atau jika pengguna secara tidak sengaja menginstal aplikasi berbahaya yang memiliki hak akses tertentu, seluruh data sensitif—mulai dari informasi profil, riwayat transaksi, hingga token sesi—dapat diambil dengan mudah. Arsitektur yang benar mengharuskan implementasi SQLCipher atau penggunaan Android Keystore dan iOS Keychain untuk memastikan data di tingkat penyimpanan lokal tetap terenkripsi.

2. Eksploitasi Logika Otorisasi (BOLA/IDOR)

Ini adalah salah satu kerentanan paling kritis dalam dunia API mobile. HTTPS menjamin bahwa permintaan Anda sampai ke server tanpa diintip orang lain, tetapi HTTPS tidak peduli jika Anda meminta data yang bukan hak Anda. Broken Object Level Authorization (BOLA) terjadi ketika aplikasi mengandalkan ID objek yang dikirim oleh pengguna (misalnya: api/v1/get_user_data?id=1001) tanpa melakukan verifikasi mendalam di sisi server apakah pengguna tersebut memang pemilik ID 1001.

Penyerang dapat dengan mudah melakukan skrip sederhana untuk mengganti angka ID tersebut secara berurutan dan memanen data ribuan pengguna lain dalam hitungan menit. Di sini, "gembok hijau" HTTPS tetap aktif, namun kebocoran data terjadi secara besar-besaran karena kegagalan arsitektur otoritas.

3. Hardcoded Credentials dan Rahasia di Sisi Client

Proses pengembangan yang terburu-buru sering kali meninggalkan jejak berbahaya: kunci API, secret key untuk enkripsi, hingga kredensial sandbox yang tertanam langsung di dalam kode sumber. Mengandalkan HTTPS untuk melindungi kunci-kunci ini adalah kesia-siaan, karena melalui teknik reverse engineering, seorang peretas dapat mendekompilasi file APK atau IPA menjadi kode yang hampir bisa dibaca manusia.

Begitu rahasia-rahasia ini terungkap, peretas memiliki akses langsung ke layanan pihak ketiga (seperti AWS, Firebase, atau Payment Gateway) yang digunakan oleh aplikasi tersebut. Arsitektur aplikasi yang matang seharusnya menggunakan layanan Secret Management atau mengambil konfigurasi sensitif hanya saat dibutuhkan melalui prosedur otentikasi yang ketat.

4. Kelalaian Konfigurasi Log dan Debugging

Dalam fase pengembangan, log sangat membantu untuk memantau aliran data. Namun, membiarkan fungsi Log.d() atau print() tetap aktif di versi produksi adalah risiko keamanan yang nyata. Log sistem pada perangkat mobile sering kali mencatat informasi sensitif, termasuk header otentikasi atau isi pesan dari respons API.

Penyerang dapat memanfaatkan alat sederhana untuk membaca log sistem secara real-time saat aplikasi berjalan. Ini adalah bentuk kebocoran data yang pasif namun sangat efektif. Memastikan bahwa seluruh mekanisme logging dinonaktifkan secara otomatis pada versi rilis adalah standar minimum yang sering kali terabaikan dalam siklus DevOps di banyak perusahaan.

5. Kelemahan pada Penanganan Deep Links dan App Links

Deep linking memungkinkan aplikasi untuk berkomunikasi dengan aplikasi lain atau merespons tautan dari peramban. Namun, tanpa validasi parameter yang kuat, fitur ini bisa menjadi gerbang bagi serangan Cross-Site Scripting (XSS) versi mobile atau bahkan Account Takeover.

Jika arsitektur aplikasi Anda menerima perintah penting (seperti transfer dana atau penggantian email) melalui deep link tanpa mewajibkan otentikasi ulang atau validasi token yang unik, maka seorang penyerang cukup mengirimkan tautan jebakan melalui SMS atau email. Saat pengguna mengklik tautan tersebut, aplikasi mobile akan secara otomatis menjalankan perintah berbahaya tersebut.

6. Minimnya Proteksi Binary dan Anti-Tampering

Sebuah aplikasi mobile pada dasarnya berada di wilayah yang tidak bisa Anda kontrol: perangkat milik pengguna. Tanpa adanya Obfuscation (pengaburan kode) dan mekanisme Integrity Check, aplikasi Anda adalah sebuah buku terbuka bagi penyerang.

Arsitektur yang lemah mengabaikan fakta bahwa penyerang dapat memodifikasi logika aplikasi (misalnya menghapus fungsi pengecekan keamanan) dan membungkusnya kembali (repackaging) menjadi aplikasi palsu. Tanpa proteksi binary yang kuat, enkripsi HTTPS di sisi komunikasi tidak akan berarti jika aplikasi itu sendiri telah dimanipulasi untuk mengirimkan data ke server milik peretas.

7. Kebergantungan pada Library Pihak Ketiga yang Usang

Modernitas pengembangan aplikasi sangat bergantung pada ekosistem library pihak ketiga. Namun, ini menciptakan risiko Supply Chain Attack. HTTPS melindungi data saat Anda berbicara dengan server Anda, tetapi bagaimana jika library analisis atau iklan yang Anda gunakan memiliki celah keamanan bawaan atau sengaja disisipi kode jahat?

Analisis mendalam terhadap dependensi aplikasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari arsitektur keamanan. Banyak kasus kebocoran data besar berakar dari satu library kecil yang tidak pernah diperbarui selama bertahun-tahun, yang memberikan akses aksesibilitas atau izin sistem secara berlebihan kepada pihak luar.

Implikasi Regulasi dan Kepercayaan Publik di Indonesia

Di Indonesia, isu keamanan data bukan lagi sekadar tantangan teknis, melainkan sudah masuk ke ranah hukum yang serius sejak disahkannya Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP). Organisasi yang gagal melindungi data pengguna akibat kelalaian arsitektur aplikasi dapat menghadapi sanksi administratif yang berat hingga sanksi pidana.

Lebih dari itu, dampak reputasi akibat insiden kebocoran data jauh lebih mahal daripada biaya pengembangan aplikasi itu sendiri. Sekali kepercayaan pengguna runtuh karena aplikasi yang "bocor", upaya pemulihannya membutuhkan waktu bertahun-tahun. Keamanan harus dipandang sebagai investasi strategis, bukan sebagai pusat biaya (cost center).

Bergerak Melampaui Standar Minimum

Untuk menjawab tantangan ini, organisasi perlu mengadopsi prinsip Security by Design. Keamanan tidak boleh menjadi tahap akhir yang dilakukan sesaat sebelum peluncuran (go-live), melainkan harus terintegrasi sejak fase perancangan arsitektur. Melakukan uji penetrasi secara berkala bukan sekadar untuk memenuhi daftar periksa kepatuhan, melainkan untuk menguji ketahanan logika bisnis terhadap skenario ancaman yang terus berkembang di dunia nyata.

Transparansi dan ketelitian dalam mengaudit setiap jengkal kode, mulai dari bagaimana data disimpan di memori hingga bagaimana API merespons permintaan yang tidak biasa, adalah kunci utama. Dengan memahami bahwa HTTPS hanyalah satu bagian dari orkestrasi keamanan yang besar, Anda selangkah lebih maju dalam melindungi aset digital dan integritas organisasi Anda.

Dalam menghadapi kompleksitas ancaman siber yang kian canggih, memiliki mitra yang mampu memberikan perspektif objektif dan mendalam mengenai postur keamanan aplikasi Anda adalah sebuah keunggulan kompetitif. Fourtrezz memahami bahwa setiap baris kode memiliki potensi risiko, dan kami berdedikasi untuk membantu organisasi mengidentifikasi serta memitigasi celah tersebut melalui pendekatan audit yang komprehensif dan standar internasional. Kami percaya bahwa kolaborasi yang erat antara tim pengembang dan ahli keamanan adalah fondasi utama bagi inovasi digital yang berkelanjutan di Indonesia.

Mari bangun ekosistem digital yang lebih aman dan terpercaya bersama kami. Untuk diskusi lebih lanjut mengenai audit keamanan arsitektur aplikasi atau layanan pengujian penetrasi lainnya, Anda dapat menghubungi tim ahli kami melalui saluran berikut:

Kontak Kami:

Bagikan:

Avatar

Andhika RDigital Marketing at Fourtrezz

Semua Artikel

Artikel Terpopuler

Berlangganan Newsletter FOURTREZZ

Jadilah yang pertama tahu mengenai artikel baru, produk, event, dan promosi.

Partner Pendukung

infinitixyberaditif

© 2026 PT Tiga Pilar Keamanan. All Rights Reserved.
Info Ordal