Selasa, 8 Oktober 2024 | 3 min read | Andhika R

Akun Medsos Khusus Remaja: Jawab Ancaman Siber atau Ciptakan Tantangan Baru?

Dengan kemajuan teknologi yang pesat, para remaja semakin akrab dengan media sosial. Namun, keamanan siber menjadi tantangan yang kian meningkat. Akun media sosial yang ditujukan khusus bagi remaja mungkin terlihat sebagai solusi untuk mengurangi risiko ancaman siber, seperti cyberbullying, phishing, hingga eksploitasi data pribadi.

Mengutip kekhawatiran tentang kesehatan mental dan fisik, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengumumkan pekan lalu rencana untuk menetapkan batas usia minimum bagi anak-anak untuk menggunakan media sosial. Namun, apakah penghapusan media sosial untuk anak-anak benar-benar solusi?

Meta mengumumkan pengenalan Akun Remaja Instagram untuk secara otomatis menempatkan remaja dalam perlindungan bawaan dan meyakinkan orang tua bahwa remaja memiliki pengalaman yang aman - menawarkan solusi lain selain larangan langsung. Akun Remaja akan membatasi siapa yang dapat menghubungi remaja dan konten yang mereka lihat, dan membantu memastikan waktu mereka dihabiskan dengan baik.

Baca Juga: Stalkerware dan Deepfake, Ancaman Nyata di Platform Kencan Online

Akun-akun ini, meskipun dilengkapi dengan fitur keamanan tambahan, tidak sepenuhnya meniadakan ancaman. Ancaman siber tetap berkembang seiring dengan kreativitas para pelaku kejahatan di dunia maya. Oleh karena itu, penting bagi platform media sosial untuk tidak hanya menawarkan keamanan yang lebih ketat, tetapi juga membangun kesadaran akan literasi digital di kalangan remaja.

CEO dan Co-Founder Keeper Security Darren Guccione memperingatkan bahwa akan ada implikasi keamanan siber dengan cara apa pun - mendesak orang tua untuk melindungi anak-anak mereka secara online. "Jejak digital yang ditinggalkan oleh aktivitas online – seperti postingan, komentar atau bahkan klik – menciptakan jejak informasi yang rentan terhadap eksploitasi oleh aktor jahat," ungkapnya.

"Terlepas dari apakah larangan media sosial diterapkan atau tidak, orang tua harus memprioritaskan melindungi privasi dan keamanan anak-anak mereka secara online, dengan secara aktif meminimalkan jejak digital mereka." Jejak digital yang ditinggalkan oleh aktivitas online – seperti postingan, komentar, atau bahkan klik yang menciptakan jejak informasi yang rentan terhadap eksploitasi oleh aktor jahat.

Baca Juga: Dell Terjebak Serangan Siber, Data Ribuan Karyawan Terekspos

Banyak platform media sosial kini menawarkan akun khusus bagi pengguna remaja, yang biasanya dilengkapi dengan pengaturan privasi lebih ketat dan fitur pelaporan yang mudah diakses. Contohnya, Instagram mengembangkan fitur khusus untuk melindungi pengguna muda dari interaksi berbahaya, seperti pengaturan default untuk akun pribadi serta pembatasan pesan dari orang asing.

Meski demikian, upaya-upaya ini harus diimbangi dengan peningkatan edukasi siber bagi remaja. Pengguna remaja harus lebih sadar akan risiko yang ada di internet serta dilatih untuk mengenali tanda-tanda peretasan atau upaya penipuan.

Selain pengaturan keamanan yang lebih ketat, literasi digital harus menjadi prioritas dalam melindungi remaja dari ancaman siber. Literasi digital dapat mencakup pemahaman mengenai cara mengelola privasi online, pentingnya kata sandi yang kuat, serta bahaya klik tautan yang mencurigakan atau mengunduh aplikasi dari sumber yang tidak terpercaya. Kampanye literasi digital juga harus dilakukan oleh pemerintah dan institusi pendidikan agar remaja lebih siap menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.

Bagikan:

Avatar

Andhika RDigital Marketing at Fourtrezz

Semua Artikel

Artikel Terpopuler

Berlangganan Newsletter FOURTREZZ

Jadilah yang pertama tahu mengenai artikel baru, produk, event, dan promosi.

Partner Pendukung

infinitixyberaditif

© 2025 PT Tiga Pilar Keamanan. All Rights Reserved.
Info Ordal