Senin, 24 Maret 2025 | 4 min read | Andhika R

Elon Musk Klaim X Mengalami Serangan Siber Besar-Besaran, Apakah Ini Dampak dari Pemangkasan Karyawan?

Platform media sosial X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, kembali menjadi sorotan global setelah Elon Musk mengumumkan bahwa platform tersebut mengalami serangan siber berskala besar pada Senin, 10 Maret 2025. Serangan ini menyebabkan gangguan akses bagi pengguna di berbagai wilayah, termasuk Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Pengumuman yang dibuat langsung oleh Musk melalui akun pribadinya di X memicu banyak spekulasi. Banyak pihak mempertanyakan apakah serangan siber ini dilakukan oleh kelompok hacker terorganisir atau justru akibat dari keputusan Musk yang memangkas jumlah karyawan X secara drastis sejak akuisisi platform tersebut pada 2022.

Laporan mengenai gangguan akses mulai bermunculan sejak Senin pagi. Ribuan pengguna melaporkan kesulitan mengakses layanan X melalui situs pemantau Downdetector, yang mencatat lebih dari 40.000 laporan gangguan pada puncak insiden ini.

Elon Musk kemudian mengunggah pernyataan di X yang mengonfirmasi bahwa platform tersebut memang sedang mengalami serangan siber besar-besaran.

“Ada (dan masih ada) serangan siber besar terhadap X,” tulis Musk dalam cuitannya.

Musk berspekulasi bahwa serangan siber ini membutuhkan sumber daya yang besar dan kemungkinan dilakukan oleh kelompok yang sangat terorganisir, bahkan mungkin melibatkan dukungan dari negara tertentu.

Dalam wawancara dengan Fox Business, Musk menyebutkan bahwa alamat IP dari komputer yang digunakan dalam serangan tersebut terlacak ke wilayah sekitar Ukraina. Namun, Musk menegaskan bahwa tim keamanan X masih terus menyelidiki insiden ini untuk memastikan siapa yang benar-benar bertanggung jawab.

Pakar keamanan siber dari perusahaan Deepwatch, Chad Cragle, menilai bahwa gangguan berkepanjangan yang dialami X menunjukkan indikasi serangan siber skala besar yang terkoordinasi dengan baik.

"Ini adalah bentuk perang siber yang paling agresif. Dengan Musk berada di pusat perhatian global, serta meningkatnya ketegangan politik, serangan ini memiliki semua tanda-tanda sebagai aksi yang melibatkan negara tertentu," ujar Cragle.

Sejak Elon Musk mengakuisisi Twitter senilai USD 44 miliar pada akhir 2022, Musk melakukan pemangkasan besar-besaran terhadap karyawan X, termasuk tim keamanan siber.

Keputusan ini menimbulkan kekhawatiran tentang kemampuan X dalam menjaga keamanan data pengguna dan melawan serangan siber. Banyak pihak berspekulasi bahwa minimnya staf teknis dan keamanan di X menjadi celah yang dimanfaatkan oleh para hacker untuk melancarkan serangan ini.

Baca Juga: DeepSeek R1 Terbukti Dapat Membantu Pembuatan Malware, Ancaman Baru di Dunia Siber

Selain itu, X juga telah beberapa kali mengalami gangguan teknis dan kebocoran data sejak diambil alih oleh Musk, yang semakin memperkuat dugaan bahwa pemangkasan karyawan berdampak langsung pada stabilitas platform.

Musk juga menyinggung bahwa serangan ini mungkin berkaitan dengan serangan politik yang ditujukan langsung padanya. Hal ini diperkuat dengan meningkatnya aksi vandalisme terhadap fasilitas Tesla serta protes besar-besaran terhadap Department of Government Efficiency (DOGE), lembaga yang dipimpin Musk untuk melakukan efisiensi anggaran pemerintahan AS.

Serangan siber ini terjadi di tengah kontroversi pemangkasan anggaran besar-besaran yang diawasi Musk melalui DOGE. Presiden AS, Donald Trump, yang sebelumnya mendukung langkah Musk, mulai memberikan reaksi yang lebih hati-hati.

Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa efisiensi anggaran harus dilakukan secara bertahap dan hati-hati.

"Kami lebih memilih menggunakan 'pisau bedah' daripada 'kapak'," tulis Trump.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Trump mulai membatasi kekuasaan Musk, terutama setelah tekanan dari anggota parlemen dan publik yang menentang pemotongan anggaran yang dianggap terlalu agresif.

Sejak Musk mengambil alih X, platform ini mengalami banyak tantangan, mulai dari kehilangan pengiklan besar, peningkatan penyebaran disinformasi, hingga gangguan sistem yang berulang kali terjadi.

Keputusan Musk untuk mengaktifkan kembali akun-akun yang sebelumnya diblokir karena menyebarkan teori konspirasi dan mendukung kelompok sayap kanan juga memicu kontroversi. Hal ini membuat X menjadi lahan subur bagi propaganda politik dan berita palsu.

Banyak pakar keamanan menilai bahwa serangan siber yang terjadi kali ini bukan hanya upaya untuk merusak platform, tetapi juga upaya untuk merusak reputasi Musk sebagai pemimpin teknologi global.

Serangan siber besar-besaran yang dialami X bukan hanya ujian bagi stabilitas platform, tetapi juga tantangan besar bagi Elon Musk sebagai pemimpin teknologi yang kontroversial.

Dengan minimnya tim keamanan siber dan meningkatnya tekanan politik, X menjadi target empuk bagi para hacker dan musuh politik Musk.

Jika Musk tidak segera memperkuat sistem keamanan dan menangani krisis ini dengan serius, X berisiko kehilangan kepercayaan pengguna dan investor secara global.

Bagikan:

Avatar

Andhika RDigital Marketing at Fourtrezz

Semua Artikel

Artikel Terpopuler

Berlangganan Newsletter FOURTREZZ

Jadilah yang pertama tahu mengenai artikel baru, produk, event, dan promosi.

Partner Pendukung

infinitixyberaditif

© 2025 PT Tiga Pilar Keamanan. All Rights Reserved.
Info Ordal