Senin, 23 Februari 2026 | 3 min read | Andhika R
Laporan Splunk: Ancaman "Whaling" Mengintai C-Level, Rekayasa Sosial yang Runtuhkan Perusahaan
Di dunia keamanan siber, pepatah "semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya" menemukan validasi yang mengerikan. Laporan strategis terbaru dari Splunk, Top 50 Cybersecurity Threats, menyoroti pergeseran paradigma para aktor ancaman. Mereka tidak lagi menebar jaring pukat harimau secara acak. Kini, mereka menggunakan tombak presisi tinggi untuk memburu para "paus"—eksekutif level atas (C-Suite).
Fenomena ini dikenal sebagai Whaling, sebuah evolusi mematikan dari rekayasa sosial (social engineering). Menurut laporan tersebut, 91% dari seluruh insiden siber yang berhasil menembus pertahanan perusahaan dimulai dari satu titik masuk sederhana: email phishing. Namun, Whaling membawa taktik ini ke tingkat psikologis yang jauh lebih manipulatif.
Berbeda dengan phishing massal yang sering kali kaku dan penuh kesalahan tata bahasa, serangan Whaling adalah mahakarya penipuan (tailored attack).
- Riset Mendalam (OSINT): Penyerang memprofiling target selama berminggu-minggu melalui LinkedIn, siaran pers, pidato publik, hingga laporan tahunan untuk meniru gaya bahasa, kebiasaan, dan relasi bisnis sang eksekutif.
- Manipulasi Emosional: Email yang dikirim dirancang untuk memicu reaksi impulsif, sering kali mengeksploitasi otoritas, ketakutan, atau urgensi tingkat tinggi. Contoh klasik: Email palsu dari CEO kepada Direktur Keuangan (CFO) yang meminta transfer dana darurat untuk "akuisisi rahasia" yang harus diselesaikan dalam hitungan jam.
Laporan Splunk mengangkat studi kasus nyata yang menimpa Levitas Capital, sebuah hedge fund bergengsi di Australia. Perusahaan ini terpaksa ditutup secara permanen setelah mengalami kerugian USD 8,7 juta (sekitar Rp 135 Miliar).
Kehancuran ini tidak dipicu oleh kerentanan firewall yang rumit, melainkan oleh satu klik pada tautan undangan Zoom palsu yang diterima oleh pendiri perusahaan. Tautan tersebut mengunduh malware yang memberi peretas akses ke sistem email perusahaan.
Ini adalah fase lanjutan dari Whaling, yang dikenal sebagai Business Email Compromise (BEC). Peretas tidak langsung mencuri uang. Mereka bersembunyi (Lurking) di dalam kotak masuk eksekutif selama berbulan-bulan, mempelajari pola komunikasi, jadwal vendor, dan alur persetujuan keuangan. Ketika waktunya tepat, mereka menyisipkan tagihan palsu dari dalam akun asli sang eksekutif, membuatnya mustahil dideteksi oleh filter keamanan email biasa.
Kasus Levitas Capital membuktikan satu realitas pahit di dunia korporat: Eksekutif adalah mata rantai paling lemah sekaligus paling berharga. Secara budaya, staf tingkat bawah cenderung takut untuk memverifikasi atau menunda perintah yang datang dari "Bos Besar", terlebih jika diberi label "Sangat Rahasia & Mendesak". Inilah celah psikologis yang dieksploitasi peretas.
Untuk memitigasi risiko Whaling dan BEC, Fourtrezz merekomendasikan penerapan tiga lapis pertahanan:
- Prosedur Verifikasi Luar Jalur (Out-of-Band): Terapkan kebijakan Zero Trust pada transaksi finansial. Setiap permintaan transfer dana bernominal besar atau perubahan nomor rekening vendor yang diinstruksikan via email wajib dikonfirmasi melalui saluran komunikasi kedua, seperti panggilan telepon langsung atau tatap muka.
- Proteksi Domain dengan DMARC: Implementasikan protokol DMARC (Domain-based Message Authentication, Reporting, and Conformance), SPF, dan DKIM dengan kebijakan Reject. Ini adalah tameng teknis paling efektif untuk memastikan tidak ada pihak luar yang bisa memalsukan (spoofing) nama domain perusahaan Anda untuk mengirim email.
- Simulasi "Red Teaming" Khusus Eksekutif: Modul Security Awareness umum tidak mempan untuk C-Level. Mereka membutuhkan simulasi Whaling yang dirancang khusus (hiper-realistis) untuk melatih otot skeptisisme mereka terhadap skenario tingkat tinggi.
Pada akhirnya, di mata peretas, identitas dan otoritas adalah kunci brankas. Keamanan siber bukan lagi urusan departemen IT semata; ini adalah tanggung jawab fidusia yang dimulai dari kehati-hatian sebelum melakukan klik di kotak masuk Anda.
Andhika RDigital Marketing at Fourtrezz
Artikel Terpopuler
Tags: Penetration Testing, Keamanan Siber, Vulnerability Assessment, Risiko Data, Fourtrezz Pentest
Baca SelengkapnyaBerita Teratas
Berlangganan Newsletter FOURTREZZ
Jadilah yang pertama tahu mengenai artikel baru, produk, event, dan promosi.



