Kamis, 12 Februari 2026 | 2 min read | Andhika R

Laporan FICCI-EY 2026: Serangan Siber Jadi "Mimpi Buruk" Utama Bisnis India, Geser Risiko Geopolitik

Lansekap risiko bisnis di India (India Inc) telah mengalami pergeseran fundamental pada tahun 2026. Berdasarkan laporan terbaru FICCI-EY Risk Survey 2026, ancaman fisik dan geopolitik tidak lagi menjadi kekhawatiran nomor satu.

Untuk pertama kalinya, Pelanggaran Keamanan Siber dan Serangan Digital muncul sebagai risiko terbesar terhadap kinerja organisasi. Sebanyak 51% pemimpin senior perusahaan di India menempatkan siber sebagai ancaman primer mereka, mengungguli risiko perubahan tuntutan pelanggan (49%) dan perkembangan geopolitik (48%). Temuan ini menandai titik balik di mana ketergantungan digital telah berubah menjadi liabilitas operasional terbesar.

Baca Juga: Waspada! Pejabat dan Jurnalis Jadi Target Peretas Negara via Aplikasi Signal

Laporan ini menyoroti beberapa angka yang mengkhawatirkan bagi kelangsungan bisnis:

  • Disrupsi Ganda: Sebanyak 61% responden menyatakan bahwa perubahan teknologi yang cepat mempengaruhi posisi kompetitif mereka, sementara proporsi yang sama (61%) melihat serangan siber sebagai ancaman finansial dan reputasi utama.
  • Musuh Dalam Selimut: Lebih dari setengah responden (57%) melaporkan bahwa pencurian data dan penipuan orang dalam (insider fraud) adalah risiko signifikan. Ini menunjukkan bahwa benteng pertahanan perusahaan sering kali runtuh dari dalam, bukan karena serangan eksternal semata.
  • Paradoks AI: Kecerdasan Buatan (AI) muncul sebagai pedang bermata dua. Sementara 60% khawatir adopsi teknologi yang lambat akan memukul efektivitas operasional, 54% justru merasa risiko terkait AI—seperti etika dan tata kelola—belum dikelola dengan efektif.

Selain aspek digital, survei juga mencatat krisis sumber daya manusia. 64% responden menyebutkan kekurangan talenta dan kesenjangan keterampilan (skill gaps) sebagai penghambat kinerja, sementara 59% mengeluhkan lemahnya perencanaan suksesi. Di sisi operasional, gangguan rantai pasok (supply chain disruptions) masih menghantui 54% eksekutif, menegaskan bahwa ekosistem bisnis India masih rentan terhadap guncangan eksternal.

Sudhakar Rajendran, Pemimpin Konsultasi Risiko di EY India, menyimpulkan bahwa organisasi kini menghadapi fase di mana risiko tidak lagi terjadi secara terisolasi. Inflasi, siber, tata kelola AI, dan perubahan regulasi kini berinteraksi (konvergensi) dan mempengaruhi ketahanan perusahaan secara langsung.

Laporan FICCI-EY ini mencerminkan fenomena global yang juga relevan bagi pasar negara berkembang lainnya: Transformasi Digital Tanpa Tata Kelola Adalah Bom Waktu. Tingginya angka kekhawatiran terhadap insider fraud(57%) adalah indikator bahwa banyak perusahaan India (dan global) terlalu fokus pada firewall eksternal namun abai pada pemantauan perilaku internal.

Bagikan:

Avatar

Andhika RDigital Marketing at Fourtrezz

Semua Artikel

Artikel Terpopuler

Berlangganan Newsletter FOURTREZZ

Jadilah yang pertama tahu mengenai artikel baru, produk, event, dan promosi.

Partner Pendukung

infinitixyberaditif

© 2026 PT Tiga Pilar Keamanan. All Rights Reserved.
Info Ordal