Selasa, 28 April 2026 | 2 min read | Andhika R
BSSN Peringatkan Bahaya FIMI, Perang Siber Modern Kini Meretas Emosi dan Opini Publik
Paradigma peperangan dan ancaman siber global telah bergeser secara radikal. Jika di masa lalu serangan siber diidentikkan dengan pembobolan pusat data atau pelumpuhan infrastruktur TI, kini target utamanya jauh lebih abstrak dan mematikan: pikiran, emosi, dan kohesi sosial masyarakat.
Peringatan tegas ini disampaikan oleh Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Brigjen TNI Berty B.W. Sumakud, di hadapan ratusan peserta forum Gaskeun Camp: Kolab Jadi Jawara di Bandung pada Kamis (23/4/2026). Dalam era digital, konflik tak lagi selalu diawali dengan manuver tank atau rudal, melainkan melalui kampanye manipulasi informasi yang terorkestrasi rapi di layar ponsel cerdas jutaan warga.
Baca Juga: Bom Waktu Internet Iran dan Urgensi Pengesahan RUU KKS untuk Kedaulatan Siber RI
BSSN secara spesifik menyoroti ancaman Foreign Information Manipulation and Interference (FIMI). Ini adalah bentuk operasi informasi di mana aktor asing—baik yang disponsori negara (state-sponsored) maupun kelompok non-negara—secara terkoordinasi memanipulasi ruang informasi domestik suatu negara.
Taktik yang digunakan dalam operasi FIMI meliputi:
- Pengerahan Pasukan Bot dan Akun Anonim: Menciptakan ilusi bahwa sebuah narasi (biasanya yang memicu kemarahan atau polarisasi) didukung oleh mayoritas publik (Astroturfing).
- Manipulasi Algoritma Media Sosial: Mengeksploitasi cara kerja platform untuk mendorong konten misinformasi dan disinformasi masuk ke kolom rekomendasi (FYP/Trending) pengguna.
- Eksploitasi Emosi: Menggunakan taktik propaganda yang secara psikologis dirancang untuk memancing kemarahan, ketakutan, atau ketidakpercayaan terhadap institusi negara.
"Target utamanya adalah emosi masyarakat, opini publik, dan stabilitas nasional," tegas Brigjen TNI Berty. Keamanan siber kini bukan sekadar perlindungan jaringan, melainkan menyangkut ketahanan kognitif masyarakat.
Menghadapi serangan yang menyasar kognisi publik, solusi teknis semata (seperti firewall atau antivirus) menjadi tidak relevan. Pertahanan utama justru terletak pada literasi digital para pengguna internet itu sendiri.
Direktur Informasi Publik Kemkomdigi, Nursodik Gunarjo, yang turut hadir dalam forum tersebut, menekankan peran strategis generasi muda. Para pemuda, pembuat konten, akademisi, hingga pengelola media center daerah (seperti Jawara Bandung) didorong untuk bertransformasi menjadi Patriot Digital. Mereka dituntut untuk tidak sekadar menjadi konsumen pasif, tetapi juga menjadi simpul verifikasi fakta dan produsen narasi positif yang aktif menetralisir disinformasi di ruang siber.
Pernyataan BSSN mengonfirmasi bahwa kita tengah berada dalam era Keamanan Kognitif (Cognitive Security). Ketika aktor ancaman menggunakan infrastruktur siber untuk merusak stabilitas sosial, institusi pemerintahan dan sektor strategis nasional tidak bisa lagi merespons dengan pendekatan Kehumasan (PR) tradisional. Kampanye FIMI beroperasi dalam hitungan menit, didorong oleh otomatisasi dan Kecerdasan Buatan (AI). Ketahanan nasional saat ini sangat bergantung pada kecepatan kita dalam mengamankan lalu lintas informasi, di mana verifikasi fakta adalah garis pertahanan terakhir.
Andhika RDigital Marketing at Fourtrezz
Artikel Terpopuler
Tags: Keamanan Siber, Penetration Testing, Serangan APT, Strategi Pertahanan, Resiliensi Digital
Baca SelengkapnyaBerita Teratas
Berlangganan Newsletter FOURTREZZ
Jadilah yang pertama tahu mengenai artikel baru, produk, event, dan promosi.


